Istriku Anugerah Bagiku


Bismillah, aku menikah kurang lebih 5 tahun yang lalu, tepatnya 12 oktober 2012, pada saat aku aktif menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa seberani itu menikahi seorang perempuan, dimana pada saat bersamaan banyak orang yang meragukan diriku, terlebih dalam urusan mencari nafkah. Bagaimana tidak ? aku seorang mahasiswa aktif semester 4 yang setiap hari harus kuliah, tak ada waktu untuk bekerja, berwirausahapun aku anggap tak sempat karena hari-hariku penuh dengan tugas makalah dan penelitian.

Hingga suatu hari keinginanku menikah memuncak, tak terbendung dan tidak bisa lagi ditolerir waktunya. Kamu tahu di Yogyakarta adalah kota multikultural, dimana semua budaya tumplek disana, termasuk urusan perempuan yang lebih banyak terbuka auratnya yang membuat aku tak tahan.

Demi Allah, hatiku berkata “Jika terus-terusan seperti, aku khawatir terperosok dalam perzinahan” – oleh karena itu akupun berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan untuk menikah.

Alhamdulillah, seminggu sejak aku berdoa kepada Allah, dipertemukanlah aku dengan adik kelasku semasa Aliyah dulu di sebuah Sekolah Tinggi Kebidanan di Bantul Yogyakarta.

Benar-benar aku tak menyangka bisa bertemu dengannya, salah seorang perempuan yang pertemuan pertamanya di Yogyakarta mampu membuat hatiku berdebar kencang, tak karuan, sungguh. Bertemu pun hanya duduk berjauhan tanpa sepatah katapun keluar, saking gugupnya.

Barulah sesaat sebelum pulang aku beranikan diri bertanya, “Anti sudah punya Calon ?” dia bilang “Belum kak”, mukaku memerah, perasaan berdebar-debar, lalu saya jawab “Bolehkah saya ke rumah, ketemua abi anti, minggu depan, insyaAllah”, tanyaku. Dia jawab “Boleh”, singkat.

Setelah itu aku betul-betul tak karuan, antara berani dan tidak berani dengan keputusan yang baru saja aku putuskan, ada perasaan, kalau aku datang ke rumahnya apa mau keluarganya menerimaku dengan statusku masih mahasiswa ? pertanyaan itu yang sempat membuatku ragu meminangnya. Tapi bismillah, sebuah doa yang membuatku mantap untuk melangkah

Singkat cerita (insyaAllah cerita detailnya akan diceritakan pada judul yang berbeda), keluarganya menerima, dengan kalimat yang sampai sekarang teringat kuat, “Kami hanya berdoa semoga pertemuan kalian adalah pertemuan yang diberkahi Allah Swt”, tidak ada pertanyaan apa pekerjaanmu, berapa gajimu, apa jabatanmu, gak ada sama sekali, demi Allah mereka tidak bertanya tentang itu, mereka hanya berpesan agar pernikahan nanti diniatkan karena mencari Ridha Allah Swt, menegakkan agama Allah Swt.

Lalu 5 bulan kemudian aku menikahinya, tak memandangnya kecuali setelah Ijab Qobul. Betul-betul pengalaman terbaik selama hidupku, dimana semua perasaan bahagi terumpah ruah dalam hati.

Kamu tahu, selama hidupku tak pernah berdekatan dengan seorang perempuan, apalagi bersentuhan dengan mereka, namun setelah ia halal untukku, gemetarlah diriku sekujur badan, bahkan ketika menulis ini pun perasaan itu hadir seperti terulang lagi masa-masa itu, dan kamu tahu, istriku juga begitu, tak pernah memandang dan bersentuhan dengan laki-laki, apalagi ketika ia aku kecup keningnya dan dia mencium tanganku.

Alhamdulillah, kini Allah karuniakan kami 3 orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan, mereka Naba Nailhun Nabhan, Abdullah Jabar Asyamie, dan Maryam Mukhbita Azimah.

Aku berterima kasih kepada istriku, yang mau menjadi istriku pada saat aku masih menganggur berjuang selesaikan pendidikan, subhanallah, berduaan boncengan naik motor kehujanan, adalah waktu teromantis buatku.

Advertisements

Cerita Sang Bujang


Cerita sang Bujang
Cerita sang Bujang

Aku sangat yakin bahwa di dunia ini tidak ada yang menginginkan kesukaran, sekalipun aku mengerti bahwa kesukaran adalah proses pendewasaan yang paling ampuh dalam proses kehidupannya. Dalam artian jika taraf kesukaran yang dihadapi seseorang semakin tinggi kemudian dia bisa menyelesaikannya maka dia telah mampu naik satu tingkat lebih tinggi daripada orang di bawahnya. Maka yang harus kita lakukan adalah menyambut kesukaran itu sebagai jalan dan kesempatan pembaharuan diri dengan tangan dan hati yang lapang.

 

Begitupun denganku, tiada hari tanpa kesukaran. Selalu saja ada kontak bathin ketika hendak melakukan sesuatu, selalu ada pertimbangan yang memakan banyak energi otak untuk berpikir mana yang terbaik untuk ku lakukan. Namun selalu juga ada kebahagiaan ketika aku mampu menyelesaikan permasalahan itu, karena kebenaran firman Allah itu yang membuat aku selalu optimis dalam setiap perjalanan kehidupanku. Salah satunya yang berbunyi “Dibalik kesukaran itu ada kemudahan” Continue reading “Cerita Sang Bujang”