Posted by: Yudi Yudistira | 6 April 2013

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen


Lomba Menulis & Kontes SEO 2013 – Konsumen Cerdas
========================================================

Assalamu’alaikum, salam sejahtera bagi kita semua, semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita dalam melakukan inovasi terhadap produktifitas kita yang berkualitas dan berdaya saing secara global. Sehingga produk yang kita hasilkan atau kita pasarkan adalah produk yang betul-betul memenuhi standar, sehingga tidak merugikan salah satu pihak, atau konsumen. Kenapa konsumen ? karena kita bisa analisis masih banyak konsumen tidak paham terhadap perlindungan konsumen itu sendiri, sehingga dampaknya tentu akan berbahaya bagi kepercayaan terhadap pemerintah misalnya, padahal pemerintah telah menetapkan standarisasi sebagai alat pendorong untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Silahkan anda baca Standarisasi DJSPK disini

Baik kita bahas bagaimana caranya jadi Konsumen yang cerdas :

======================================================
konsumen cerdas
======================================================
Coba perhatikan gambar diatas !! apa yang bisa anda tangkap ?
Ya betul sekali, inilah salah satu bentuk kepedulian terhadap perlindungan konsumen, dan hal ini tentu saja akan berhasil dicapai jika ada kerjasama antara Penjual, Pemerintah dan Konsumen itu sendiri.

http://idkf.bogor.netPertama : Teliti sebelum membeli. Ketelitian ini memang sangat penting dalam hal apapun, termasuk dalam proses jual beli, konsumen yang bijak, cerdas dan baik akan teliti dengan barang yang akan dibelinya. Kenapa harus teliti ? Ibu bapak, di jaman sekarang banyak sekali pemalsuan barang dagangan, produk yang tidak dikemas dengan baik sehingga ternjangkit banyak penyakit, atau yang sering kita lihat di TV, barang dijual kepada publik padahal menggunakan borax, pewarna pakaian dan lain sebagainya. Pastikan bahwa barang yang akan anda beli berlabel (Halal) misalnya, kemudian teliti kembali tanggal kadaluarsa, ini juga penting, karena tidak sedikit juga konsumen mengalami keracunan setelah mengkonsumsi makanan tertentu karena telah kadaluarsa. Alangkah baiknya jika anda membaca artikel berikut untuk menambah pengetahuan anda jika terlanjur keracunan.

Melihat label dan kadaluarsaKedua : Perhatikan label dan kadaluarsa, seperti yang sudah saya sampaikan diatas, memperhatikan label dan tanngal kadaluarsa itu sangat penting, sebab itu menentukan kualitas barang juga. Jika anda menemukan ada barang yang sudah kadaluarsa hendaklah anda melaporkan kepada petugas, penjaga toko atau karyawan supermarket ditempat anda membeli barang, agar si penjual segera mengamankan barang tersebut, sehingga tidak dibeli oleh konsumen yang tidak teliti. Biasanya jika ada konsumen yang kritis semacam ini penjual juga akan lebih berhati-hati jika akan menjual barangnya.

Disamping itu, kita harus tahu bahwa pemerintah juga tidak tinggal diam, misalnya saja dari Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa (Direktorat PBBJ), Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa (Direktorat PBBJ), sesuai dengan peran, fungsi dan tugasnya senantiasa mencermati lalu lintas barang dan/atau Jasa, terutama yang beredar di Indonesia. Hal ini sesuai dengan arah kebijakan pembangunan perdagangan dalam negeri, terutama yang menyangkut mewujudkan berkembangnya lembaga perdagangan yang efektif dalam perlindungan konsumen serta persaiangan usaha secara sehat.

sesuai dengan pasal 30 UU No. 8 tahun 1999, Direktorat PBBJ merupakan unit teknis Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen sesuai kewenangannya melaksanakan tugas untuk melindungi konsumen atas perilaku pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu konsumen juga harus bekerja sama demi terciptanya situasi perdagangan yang sehat.

http://www.nulis.web.idKetiga : Perhatikan produk bertanda jaminan mutu SNI. Kalau anda lihat ada tanda SNI di sebuah produk, maka dijamin produk itu aman untuk dibeli. Sebab produk tersebut sudah melewati proses Standarisasi Nasional. Kenapa penting ? tentu saja penting, pemerintah punya standarisasi yang sudah diujicoba sehingga barang-barang yang bertanda SNI pasti berskala Nasional dan aman untuk dibeli, dan itu tidak semua produk bisa mendapatkannya. Maka konsumen cerdas tentu saja memperhatikan faktor ini, misalnya saja Helm, bagaimana jika seseorang membeli helm tidak berstandar SNI pasti tidak akan aman jika suatu hari terjadi kecelakaan.

Belanja-HematKeempat : Belilah sesuatu sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan. Memang point yang keempat agak berat dijalankan sebagian masyarakat, bagaimana tidak, kadang-kadang melihat ada iklan tentang produk terbaru mereka harus segera membeli produk tersebut, padahal barang lama masih ada dan masih layak dipakai. Misalnya Kopi, di rumah sudah ada 1kg kopi, tapi karena tadi melihat ada iklan bagus tentang kopi langsung beli banyak, padahal hanya untuk dicicipi saja, dan masih banyak contoh-contoh yang lain. Tentu saja bukan hanya tidak akan terpakai tetapi juga akan boros jadinya, oleh karena itu, konsumen yang baik akan memperhatikan faktor kebutuhan bukan keinginan.

perlindungan-konsumenBapak / Ibu yang budiman, mari kita semua menjadi konsumen yang cerdas yang mengerti perlindungan konsumen. Pemerintah tentu saja telah mengupayakan perlindungan konsumen secara maksimal, namun tentu saja hasilnya tidak akan maksimal jika tidak ada kerja sama antar Pedagang, Pemerintah dan Konsumen. Kesimpulannya, jika ingin membeli suatu produk ingat Rumus TP2B = Teliti sebelum beli, Perhatikan label & kadaluarsa, Perhatikan ada tidaknya tanda SNI, & Beli sesuai kebutuhan saja. InsyaAllah dengan menggunakan rumus diatas kita bisa menjadi bagian dari konsumen cerdas yang melindungi diri kita dan keluarga kita dari produk-produk berbahaya dan tidak berstandar mutu Nasional.

Nah sekarang kita sudah tahu bagaimana caranya menjadi konsumen cerdas bukan, sambil minum teh, perhatikanlah video di bawah ini, mudah-mudahan bisa menambah hasanah kita dalam berbelanja dan memasarkan produk :

Bagaimana Bapak/Ibu sekalian, bertambahkan wawasan kita, mudah-mudahan kita bisa menyampaikan kepada keluarga terdekat kita, sehingga ikut membantu mensukseskan Program perlindungan konsumen.

Kemudian jika Bapak / Ibu tidak suka membaca artikel berbentuk deskripsi, baik kami sajika artikel berbentuk Bagan, perhatikan bagan berikut :

bagan perlindungan konsumen

Keterangan :
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa pelaksanaan program perlindungan konsumen dalam mewujudkan konsumen cerdas tidak akan terlaksana jika tidak ada kerja sama antara ketiga komponen di atas, yaitu : Pedagang, Pemerintah, dan Penjual.

Pedagang yang saya maksud adalah semua orang yang menjual sebuah produk kepada publik atau konsumen, seandainya saja Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh DJSPK dan Konsumen sudah melakukan tugasnya dengan baik, pemerintah sudah melakukan tugasnya sebagaimana tertera dalam bagan diatas dan konsumen juga sudah memakai rumus T2PB dalam berbelanja, tapi ada pedagang yang tak jujur, memasang logo halal palsu misalnya, itu juga akan membuat efek negatif tentunya. Karena kalau kita boleh jujur di depan publik, banyak juga pedagang melakukan tindak kecurangan seperti ini, dan kalau sudah begini yang jadi korban yang konsumen itu sendiri. Maka sekali lagi perlu ada kerja sama antar pedagang, pemerintah dan konsumen. Ayolah pasti kita bisa menjadi orang yang jujur, cerdas dan produktif, sehingga betul-betul akan mengangkat harkat dan derajat bangsa Indonesia, apa itu tidak hebat ? Oleh karena itu perlu ada upaya diantara kita, agar betul-betul bisa terlaksana program yang baik ini.

Wakil-Bupati-KKA-Abdul-Haris-SH-Sidak-Pasar-Jelang-RamadhanUntuk pedagang hendaklah memperhatikan hal-ha berikut :

  1. Memperhatikan kualitas produk, kualitas disini amatlah penting, bagaimanapun konsumen atau siapaun juga tidak ingin membeli barang yang tidak berkualitas, terutama makanan, karena makanan yang berkualitas sangat baik buat kesehatan.
  2. Mendaftarkan produk dagangannya, agar mendapat label SNI. InsyaAllah setelah postingan ini masyarakat akan lebih faham dengan barang apa yang hendak mereka beli, salah satunya adalah membeli barang berstandar Nasional (SNI), oleh karena itu kepada para pedagang hendaklah memperhatikan faktor ini.
  3. Bertanggung jawab kepada konsumen,  maksudnya adalah pedagang betul-betul siap bertanggung jawab kepada kebaikan bersama, baik kepada pedangan itu sendiri maupun kepada konsumen, kepada konsumen artinya memiliki rasa persaudaraan sehingga tidak akan berani jika mau merugikan pihak konsumen, atau merasa kasihan jika mau memasukan Borax kepada makanan yang akan dijual. Disamping itu pedangang siap menerima kritikan dan mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh konsumen.
  4. Tidak semata mencari keuntungan, Bapak/Ibu percaya deh, jika bapak ibu mengutamakan pelayanan yang baik, maka bapak ibu akan untuk, tapi jika mengutamakan keuntungan maka bapak ibu akan bertindak semaunya yang penting bisa dapat untung banyak, tak peduli meski harus merugikan konsumen. Ini yang salah, oleh karena itu pedagang tidak menjadikan keuntungan sebagai prioritas utama meski keuntungan harus tetap dikejar.
  5. Jujur dalam berdagang, saya pikir kita sepakat bahwa tidak ada satu orang pun yang mau dibohongi, dicurangi atau dikhianati, meski kadang-kadang kita melakukan salah satu diatas. Tapi mulai sekarang yuk kita jadi orang jujur, berdagang dengan kejujuran, membeli juga dengan kejujuran, sehingga bukan cuma akan melindungi konsumen tapi juga melindung penjual, karena kepercayaan bisa didapatkan oleh masyarakat sehingga penjual juga akan merasa tenang dengan jualannya. Jangan sampai barang jelek dikatakan bagus, barang bagus dikatakan mahal dan sebagainya, yang akhirnya akan sangat merugikan konsumen.
  6. Memperhatikan kualitas layanan, kita tahu bahwa hampir semua bidang usaha perdagangan amat sangat memperhatikan kualitas layanan, biasanya kualitas layanannya baik akan menghasilkan provit yang baik juga, begitu juga sebaliknya, kualitas layanan rendah maka provit juga bisa rendah. Kualitas layanan juga bisa mengacu pada standarisasi Nasional Indonesia.

Kemudian untuk pemerintah sendiri sebenarnya telah menyiapkan berbagai program kerja, baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya saja yang telah dilansir di situs resmi DJSPK yang memiliki paparan sebagai berikut :

TUGAS POKOK DAN FUNGSI DIREKTORAT PEMBERDAYAAN KONSUMEN
TUGAS POKOK
Melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan pedoman, norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang pemberdayaan konsumen.
FUNGSI
Fungsi dari Direktorat Pemberdayaan Konsumen adalah :
  • Penyiapan perumusan kebijakan di bidang kerja sama, informasi dan publikasi, analisa penyelenggaraan perlindungan konsumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, fasilitasi kelembagaan pemberdayaan kosumen;
  • Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang kerja sama, informasi dan publikasi, analisa penyelenggaraan perlindungan kosumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, fasilitasi kelembagaan pemberdayaan konsumen;
  • Penyiapan penyusunan pedoman, standar, norma, prosedur, dan kriteria di bidang kerja sama, informasi dan publikasi, analisa penyelenggaraan perlindungan konsumen, bimbingan kosnumen dan pelaku usaha, fasilitasi kelembagaan pemberdayaan kosumen;
  • Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang kerja sama, informasi dan publikasi, analisa penyelenggaraan perlindungan kosnumen, bimbingan kosumen dan pelaku usaha, fasilitasi kelembagaan pemberdayaan konsumen; dan Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

perlindungan-konsumen-5InsyaAllah program di atas sudah dilaksanakan dengan baik, tinggal dari kita yang harus ikut aktif berpartisipasi dalam mensukseskannya. Adapun paparan yang dibagan adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan jaminan keamanan kepada pedagang dan konsumen. Keamanan dalam sektor apapun menjadi sangat penting, karena akan menentukan berhasil atau tidaknya suatu program. Dalam sosialiasi pemerintah tentu saja harus meyakinkan bahwa apa yang menjadi program pemerintah adalah aman, misalnya saja SNI, siapun boleh mendaftarkan produknya, masalah lulus atau tidak, kita serahkan kepada pemerintah, mungkin ada pertimbangan lain yang menjadi faktor utama ditolaknya produk kita mendapatkan label SNI, tapi kepada para pedagang jangan menyerah, karena pasti ada kesempatan untuk memperbaiki kembali produk kita itu.
  2. Melakukan pengawasan secara berkala, artinya pemerintah setempat betul-betul perhatian kepada konsumen, sehingga pengawasan berkala ini menjadi bukti nyata dari kepedulian pemerintah kepada perlindungan konsumen. Kita harus terus mengawasi perkembangan perekonomian bangsa, yang akhir-akhir ini kita tahu banyak penyelewengan dalam bisnis. Tentu saja tidak berhenti pada pengawasan, melainkan apa yang harus dilakukan setelah pengawasan di lapangan itu, agar bisa menjadi baik hasilnya bagi si penjual dan si konsumen.
  3. Menyeleksi produk mana yang layak SNI atau mana yang tidak. InsyaAllah pemerintah sudah menetapkan produk yang memang layak dipasarkan berskala Nasional, sehingga banyak diantara penjual yang mengatakan agak susah untuk mendapatkan label SNI, Saya katakan yang membuat susah keluarnya label SNI pada suatu produk adalah demi keamanan bersama, terutama untuk konsumen. Karena bagaimana pun pemerintah merasa bertanggung jawab dalam hal ini. Oleh karena itu, jangan menyerah jika ada diantara penjual yang gagal mendaptkan SNI, kemudian dia membiarkan produknya tanpa label SNI.
  4. Melakukan penanggulangan jika terjadi kecurangan di lapangan. Kecurangan biasanya selalu ada, oleh karena selalu ada itulah perlu adanya penanggulangan yang tegas, sehingga penjual akan berpikir dua kali untuk menjualkan produknya kepada konsumen.
  5. Menjaga prinsip perlindungan konsumen, sebagaimana yang telah disepakati bersama bahwa perlindungan konsumen itu menjadi tugas bersama, oleh karena itu prinsip ini harus tetap dipertahankan sampai ada sesuatu yang dianggap lebih baik dari ini.
  6. Melakukan sosialisasi baik secara langsung maupun lewat media, selam ini saya belum pernah melihat ada iklan di chanel televisi terkenal yang mengiklankan harus pintar dalam membeli, atau iklan menjadi konsumen cerdas, iya tidak ? nah oleh karena itu, pemerintah juga harus memikirkan bagaimana caranya agar masyarakat Indonesia tahu bagaimana caranya menjadi konsumen cerdas yang paham perlindungan konsumen.

Dan penjelasan terakhir yaitu Konsumen itu sendiri. Perlu diketahui bahwa postingan ini pun bertujuan agar masyarakat tahu bagaimana caranya menjadi konsumen yang cerdas yang paham perlindungan konsumen, sehingga rasanya janggal jika yang menjadi objek pembicaraan tidak menyadari pentingnya menjadi konsumen cerdas itu.

Melihat dari bagan diatas sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan bahwa menjadi konsumen cerdas itu sebenarnya gampang, asal tahu caranya, oleh karena itu sosialisasi pemerintah dalam hal ini menjadi sangat penting bukan ?

Baik langsung saja pada pembahasa pertama :

  1. Menggunakan rumus TP2B, artinya sebelum berbelanja konsumen hendaklah Teliti dengan barang yang akan dibeli, Perhatikan label dan kadaluarsa, Perhatikan tanda SNI, dan yang terakhir Belilah barang yang dibutuhkan bukan barang yang diinginkan.
  2. Cerdas dan Bijak dalam berbelanja, bukan berarti beli daging sapi itu dilarang, tapi jika setiap hari terus membeli daging sapi juga tidak baik buat kantung dan kesehatan kita, sesekali kita membeli sayur-sayuran, karena bukan cuma baik buat kesehatan kita tetapi juga harganya relatif murah.
  3. Ikut berpartisipasi dalam program perlindungan konsumen. Mulailah kita mengajak saudara dekat kita, minimal memberi pengajaran kepada anak-anak kita, sehingga akan ada dampak perubahan yang baik bagi perekonomian Indonesia, karena punya masyarakat yang cerdas dan mencintain Produk dalam Negeri.
  4. Mencari tahu produk mana yang layak dan mana yang tidak. Di media televisi banyak sekali berita-berita tentang penyelewengan penjual, oleh karena pengetahuan itulah yang akan berguna dalam menentukan pembelian produk itu sendiri.
  5. Segera melapor kepada petugas yang berwenang, jika ditemukan ada barang yang cacat atau tidak layak jual. Banyak faktor mengapa saya mengatakan tidak layak jual, misalnya sudah kadaluarsa, tidak mencantumkan label Halal bagi orang muslim, sudah jamuran atau kemasan terbuka dan sebagainya. Laporan kita tentu saja akan berguna, bukan hanya akan menyelematkan konsumen yang kurang teliti tetapi juga bisa menjadi bahan evaluasi dari pihak penjual itu sendiri.

Oleh karena pentingnya program ini, saya berharap akan ada perubahan yang baik, jika masyarakat membaca artikel singkat ini. Tidak banyak memang orang yang memperhatikan kualitas, tetapi saya yakin masih ada orang yang semacam itu, dan saya juga yakin dari yang sedikit itu akan tumbuh menjadi besar. Saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada penyelenggara program perlindungan konsumen, DITJENSPK, Kemendag dan lain sebagainya. Kemudian bagi saudara-saudaraku sesama pedagang, yuk kita bersikap jujur dalam berdagang. Dan bagi konsumen, ingat TP2B !!.

Sponsored by :

Konsumen Cerdas konsumen_cerdas_paham_perlindungan_konsumen_image-medium-postbit-17144 Konsumen-Cerdas-300x261


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: