Posted by: Yudi Yudistira | 9 September 2011

Akoe © Yudi Yudistira 2011


Akoe © Yudi Yudistira 2011

Akoe © Yudi Yudistira 2011

Langkah kakiku keluar dari rumah mengawali hariku dengan basmallah, alhamdulillah senang rasanya, keberangkatanku ke sekolah hari ini dihantarkan dengan senyum umiy. Dengan nada lembut beliau berkata kepadaku, Nak, insyaAllah umiy doakan engkau akan lulus. Aku tersenyum mendengarnya, kemudian aku mengaminkan perkataannya. Lalu dengan sergap aku berjalan kaki menuju sekolahku.

 

Berjalan kaki adalah kebiasaan ku, sejak sekolah SMP sampai sekarang sekolah SMA. Dalam sehari aku harus menempuh jarak 10 km lebih dengan jalan menanjak, berbatu dan sesekali harus melewati sungai. Itu adalah jalan alternatif terdekat, karena kalau aku melewati jalan raya, akan lebih jauh lagi, dan terkadang aku harus malu dengan teman-temanku yang naik angkot atau lebih mewah naik motor pribadi. Memang aku dari golongan keluarga sederhana, jangankan beli motor, sepeda saja kami tidak sanggup. Aku memang lebih banyak berpuasa, karena tak jarang abiy sering tidak punya uang untuk membekali sekolahku.

 

Awalnya aku adalah orang yang suka mengeluh dengan keadaan, namun seiring berjalannya waktu, aku semakin menyadari betapa beruntungnya aku. Suatu hari aku pernah mengeluh ketika aku tak punya motor, tapi melihat temanku yang karena punya motor lebih banyak boncengan dengan perempuan, sering main daripada belajar, membuatku merasa bersyukur kepada Allah karena ketidakpunyaan motor membuat aku malas jalan-jalan dan lebih banyak membaca buku.

 

Kalau ada lomba lari cepat, aku selalu jadi juara di kelas, alasan utama karena aku lebih banyak berjalan dan berlari kalau hujan, sehingga membuat tubuh menjadi sehat dan lebih stabil. Kesederhanaan membuatku lebih menghargai orang lain, sehingga merekapun menghargai aku. Itulah yang aku syukuri, bukan hanya keluarga yang lengkap, yang sayang kepada anak-anaknya, tetapi juga memiliki sahabat yang begitu dekat dengan ku.

Aku biasanya pergi ke sekolah dengan teman baikku, namanya Aam Miftahudin. Setiap hari aku sering bermain dengannya, berorganisasi dengannya dan berkeluh kesah kepadanya. Sering menasihati tentang kebaikkan dan banyak belajar kepada ayahnya.

Di sekolah.

Akhirnya kami sampai di sekolah juga, aku melihat banyak teman-teman bergerombol, nampaknya mereka sedang membicarakan nasib mereka setelah mereka lulus sekolah, itu juga kalau lulus, kalau tidak bagaimana ?. Ada juga perasaan khawatir tergambar di wajah mereka, begitu juga dengan diriku, bagaimana kalau aku tidak lulus, bagaimana perasaan umiy, pasti dia kecewa mendengarnya. Wah aku tidak mau itu terjadi, insyaAllah aku bisa lulus.

 

Tak lama kemudian, kita semua dikumpulkan di lapangan basket, yang baru selesai minggu kemarin. Deg-degan bercampur dengan perasaan was-was kalau-kalau pak kepala sekolah menyebut salah satu nama yang tak lulus sekolah. Semua orang terdiam dan terpaku ke depan melihat dan menunggu pak kepala sekolah membacakan surat kelulusan.

 

“Ya Allah, semoga lulus semua, semoga lulus semua, Amien “ hatiku berkata sambil memejam mata

“ Alhamdulillah, hari ini nilai kelulusan sudah keluar” perkataan pak kepala sekolah, membuat kita diam. Lalu beliau meneruskan kembali perkataannya

“ dan yang membuat kami bangga adalah, tahun ini siswa angkatan 2008 telah lulus, 100 persen”

“ horeee..” semua orang bersorak sorai lalu bersujud syukur kepada Allah, tak terasa air mata mengalir bahagia, dan terbayang wajah ibu tersenyum bahagia pula. Aku pun tidak menyangka bahwa aku bisa lulus, bukan hanya itu, aku termasuk 10 besar dari kelasku. MasyaAllah,  NikmatMu yang manakah yang bisa kami dustakan.

 

Setelah semua lega, masalah baru datang kepadaku. Teman-temanku akan melanjutkan kuliah, ada yang ke STAIN Cirebon, ke UIN Sunan kalijaga Yogyakarta, ada yang ke UGM, ada yang ke UIN Gunung djati, ada yang ke UNPAD, ke UI, ke UPI dan masih banyak lagi. Aku ? kemana aku hendak pergi. Kuliah tidak punya biaya, kerja tidak bisa apa-apa selain dari bahasa arab yang pas-pasan.

 

Aku pulang dengan setengah bahagia dan setengah sedih. Aku menunjukkan bukti kelulusanku ke umiy, beliau senang sekali melihatnya, sampai-sampai beliau sudah membuat nasi goreng kesukaanku. Aku bahagia, namun aku juga sedih, apakah masa depanku sampai disini ?

Malam, ketika semua berkumpul aku mengutarakan keiinginanku ke umiy dan abiy.

“ umiy abiy, boleh saya mengutarakan sesuatu ”

“ boleh sayang ” jawab umiy, abiy pun terperanjat dan langsung mematikan rokoknya

“ saya pengen kuliah umiy “

Kata- kataku membuat wajah umiy menjadi layu sambil memandang wajah abiy meminta simpati

“ nak, berapa kira-kira biaya untuk kuliah ?”

“ emm, 5 juta umiy ?”

“ 5 juta ?” jawab umiy kaget

“ iya, 5 juta “

“ nak, abiy tahu keinginanmu untuk belajar begitu kuat, tapi kamu kan tahu abiy ini hanya seorang buruh supir, yang untuk makan saja kadang pas-pasan.”

“ iya abiy, saya minta maaf, baiklah biy, saya tidak akan kuliah.”

 

Dengan wajah tertunduk, aku masuk kamar, lalu aku menidurkan diri untuk menenangkan diri.

Keesokannya aku iseng main ke sekolah meski sebenarnya sudah tidak efektif lagi. Namun tak disangka ada kakak kelas, namanya arif bercerita tentang pengalamannya. Beliau belajar di magistra utama yogyakarta, lembaga pendidikan dan pelatihan 1 tahun, membina dan melatih peserta programnya, sehingga memiliki skill untuk bekerja atau berwirausaha. Dan yang lebih aku syukuri aku bisa belajar sambil bekerja di sana.

Aku langsung bicara pada abiy tentang perbincangan antara aku dan kakak kelasku. Aku berusaha meyakinkan beliau untuk mengizinkan aku ke Yogyakarta.

 

“biy, sungguh saya hanya mohon abiy mengizinkan saya belajar di Yogyakarta, biaya InsyaAllah saya bisa berusaha, dan pasti ada jalan”

“ ya sudah kalau itu sudah menjadi azammu, abiy dan umiy insyaAllah meridhai engkau” jawab abiy agak berat

“ ingat, disana yang sungguh-sungguh, terus jangan lupa kabarin umiy kalau ada sesuatu”

Aku terperanjat mencium kening umiy dan abiy.

“ terima kasih umiy, terima kasih abiy”

Aku berangkat sehari setelah pembicaraan tersebut. Sebelum berangkat, aku dibekali makanan oleh bibi, terus abiy juga memberikan sebuah ponsel Sony, agak jadul tapi bahagia banget, dengan bekal yang tak banyak aku berangkat dengan bismillah.

Kalau aku mengeluh karena tidak kuliah, maka sampai kapanpun aku tidak akan kuliah, tetapi jika aku bersyukur dan mencari peluang terus, insyaAllah pasti Allah akan memberikan jalan yang terbaik bagi ku. insyaAllah

 

Singkat cerita, aku sampai di Yogyakarta dan masuk ke dalam gedung yang diperbincangkan oleh kakak kelasku, Magistra Utama. Setelah istirahat cukup aku menemui Direktur Operasionalnya, beliau adalah Jeryanto, S.T yang aku sebut beliau dengan pak Jary. Aku mengungkapkan keinginanku dan kekuranganku kepadanya. Dan yang membuat aku bahagia, Allah memberikan jalan keluar kepadaku.

“ Betul kamu ingin belajar ?” Tanya pak jery kepadaku

“ iya pak, betul “

“ kalau saya tawarkan kepadamu suatu pekerjaan, engkau menyanggupinya ?”

“ siap pak “ jawabku senang

“ jadi begini, setiap hari kamu harus dating ke sini jam 05 pagi, menyiapkan ruangan dengan LCD, 1 komputer, dan kalau perlu kursi dan lantai dibereskan. Nanti perbulan akan saya beri kamu 100 ribu “

“ beneran pak ? iya pak saya mau .”

 

Setiap hari aku harus berangkat ke kampus Magistra, untuk membersihkan seluruh ruang kelas yang jumlahnya 5 ruang, dan cukup besar. Bahagia hatiku karena aku bisa belajar dan dapat membiayai diriku sendiri disini. Singkat cerita, setelah sebulan, akhirnya pak jary benar-benar memberikanku gaji, dan aku cukup terkejut ternyata uang yang dalam amplop 200 ribu, aku makin bersyukur kepada Allah. Sejak saat itulah aku tidak pernah sekalipun melewatkan shalat dhuha kecuali karena berhalangan atau sakit.

 

Setahun sudah berlalu, aku sungguh berbeda, karena sekarang aku sudah menguasai Komputer. Setelah magang 3 bulan di sekolah almamaterku, aku direkrut oleh pak jary menjadi pengajar di Magistra Utama. Subhanallah, rencana Allah sangat indah. Dikala teman-temanku masih meminta kepada orang tua, aku sudah bisa hidup mandiri dan mengumpulkan uang yang bisa aku kirim ke rumah. Sedikit demi sedikit aku kumpulkan demi cita-citaku meneruskan studi di perguruan tinggi, kalau bisa negeri biar murah.

 

Tahun 2011 adalah hari dimana aku harus mengikut ujian SNMPTN, pilihan pertama aku memilih jurusan Teknik Informatika S-1 di UNY, pilihan ke dua Pendidikan bahasa perancis di UNY dan yang ke tiga aku memilih Pendidikan bahasa jawa di UNY. Jujur aku bukan orang yang pandai fisika, biologi, matematika atau yang lainnya, sehingga ketika ujian, hampir semua soal tidak bisa aku jawab. Namun lagi-lagi aku menggantungkan harapanku kepada Allah. “ kalau memang kuliah adalah keputusanMu, maka pasti aku akan kuliah, tetapi jika tidak, pasti Engkau akan memberikan aku jalan yang lebih baik lagi.”

 

Setelah beberapa minggu, aku langsung ke UNY barang kali ada namaku di daftar nama yang lulus SNMPTN. Awalnya aku sedih, lama sekali aku mencari, kok tidak ada namaku, aku sudah mulai putus asa. Kemudian aku mencari di fakultas bahasa dan seni, aku cari terus kebawah, ku susuri satu-satu dengan mata agak tajam, hingga benar-benar aku tidak percaya bahwa ada nama Yudi Yudistira diterima di UNY jurusan Pendidikan Bahasa Perancis. Aku langsung ke masjid dan shalat dua rakaat disana.

 

Yang membuat kebahagiaanku semakin lengkap adalah umiy menangis terharu, dan mendoakan dengan suara tangis yang tersendat-sendat, akupun demikian.

Itulah rencana Allah yang terbaik, jika kita bersyukur atas nikmatNya maka Allah akan menambahnya, namun jika kita kufur maka Nikmat akan berubah menjadi Adzab. (QS. Ibrahim [14]: 7)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: