Posted by: Yudi Yudistira | 8 December 2010

Marah adalah sifat Syetan


Marah itu sifat Syetan

Marah itu sifat Syetan

Sungguh aku teringat dengan perkataan seseorang kepadaku, “Jika kamu marah terhadap seseorang, maka ingatlah bahwa dia pernah berbuat baik terhadapmu, kalaupun tidak, ingatlah sesungguhnya Allah menyukai orang yang lapang dada memafkan seseorang dan jika engkau kecewa kepada seseorang, maka ingatlah perkataan baik yang pernah dia lontarkan, karena sungguh itu lebih baik dari pada kita marah yang akhirnya dapat mengeluarkan sesuatu yang membuat kita ingkar kepada Allah.”
Sejak saat itulah aku menapakinya, belajar agar aku bisa memendam kamarahan dan aku gantikan menjadi kasih sayang dan kelapangdadaan mencari sesuatu yang lebih bermanfaat ketimbang aku harus melampiaskan rasa itu, sehingga menimbun dendam dan sakit hati. Sudah banyak korban yang berjatuhan, hanya gara-gara tidak bisa menahan marah.
kalau dipikir-pikir, umurku sudah 19 tahun, aku mulai puasa pada umur 7 tahun, berarti aku sudah berlatih puasa selama kurang lebih 12 bulan dari 12 tahun, sedangkan aku tahu bahwa salah satu hikmah dari puasa itu sendiri adalah orang lebih bisa menguasai diri mereka sendiri tehadap amarah mereka yang berpuasa, nah permasalahannya adalah kita sudah tahu itu dan kita sudah lama berlatih untuk hal itu kenapa kita masih bisa melampiaskan kemarahan kita untuk sesuatu yang buruk. jawabannya adalah pada hati masing-masing. tapi faktanya, bahwa marah itu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah. ingat kita punya figur yang amat mulia, yaitu Rosulullah SAW, beliau adalah sesosok insan pemaaf dan sulit untuk marah, beliau hanya marah jika Allah diduakan, beliau hanya marah ketika Islam dilecehkan dan beliau marah kalau orang – orang lebih bangga dengan kemungkaran.
Ada sebuah kisah, pada suatu hari beliau ketika hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat, beliau selalu diludahi oleh orang yang membenci beliau, setiap hari beliau selalu diludahi ketika hendak melewati rumahnya atau hendak pergi ke masjid, tapi beliau sama sekali tidak pernah marak terhadapnya, bahkan ketika tidak ada lagi yang meludahinya, beliau segera bertanya tentang orang tersebut, dan jawaban yang Beliau dapatkan adalah bahwa orang tersebut sedang sakit, tanpa pikir panjang beliau langsung menengoknya,kemudian terjadilah hikmah disana, orang yang paling membenci Rosullullah berubah menjadi orang yang menyayangiNya dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
jika mendengar sejarah tersebut, dapat kita ambil bahwa ujung dari kelapangan kita adalah kebaikan dan kebahagiaan sedangkan amarah hanya akan membawa malapetaka…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: