Posted by: Yudi Yudistira | 7 December 2010

Lelaki Sejati


Lelaki Sejati

Lelaki Sejati

Kisah ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khatab ra. Ada seorang pemuda kaya, hendak pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya. Setelah semua dirasanya siap, dia pun memulai perjalanannya.

Di tengah perjalanan, dia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat ini untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu duduk di bawah pohon. Akhirnya dia terlelap dalam tidunya yang nyenyak.

Saat dia tidur, tali untanya terlepas, sehingga unta itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ., unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebum. Dan juga merusak segala yang dilewatinya.

Penjaga kebun itu adalah seorang kakek yang sudah tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu. Namun tidak bisa, karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, lalu sang kakek membunuhnya.

Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, dia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher mengangga di dalam kebun. Pada saat itu, seorang kakek dating.

Pemuda itu bertanya, “ Siapa yang membunuh unta ini?”

Kakek itu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, terpaksa dia membunuhnya.

Mendengar hal itu, sang pemuda sangat marah, hingga tak terkendalikan. Serta merta dia memukuli kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu menyesal atas apa yang telah diperbuatnya. Dia berniat kabur.

Saat itu, datanglah dua orang anak kakek tadi. Mengetahui ayahnya tergeletak tak benyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya.

Kemudia, keduanya membawa pemuda itu untuk menghadap amirul mu’minin, khalifah Umar bin Khatab ra. Mereka berdua menuntut dilaksanakannya Qishas (hukuman mati untuk yang membunuh) kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka.

Lalu Umar bertanya kepada pemuda itu. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Dia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya.

Umar berkata “ Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah. “

Seketika itu sang pemuda meminta kepada Umar, agar dia diberi waktu dua hari untuk pergi ke kampungnya, sehingga dia bisa membayar hutang-hutangnya.

Umar bin Khatab “Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi ke sini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishasnya sebagai ganti dirimu.”

Pemuda itu menjawab, “Aku orang asing di negeri ini, Amirul mukminin aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin.”

Sahabat abu dzar ra yang saat itu hadir di situ berkata “ Hai amirul mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ini tidak dating lagi setelah dua hari.”

Dengan terkejut, Umar bin Khatab berkata “apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai abu dzar, wahai sahabat Rosulullah?”

“benar, amirul mukminin” jawab abu dzar lantang.

Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishas, orang-orang menantikan datannya pemuda itu, sangat mengejutkan dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu dating dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia sampai di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandanya dengan rasa takjub.

Umar bertannya kepada pemuda itu, “mengapa kau kembali lagi ke sini anak muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?”

Pemuda itu menjawa, “wahai amirul mukminin, aku dating ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, ‘tidak ada lagi orang yang menepati janji di kalangan umat islam’, dan agar orang-orang tidak mengatakan, ‘tidak ada lelaki sejati, ksatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat Muhammad saw.”

Lalu umar melangkah ke arah Abu Dzar al ghifari dan berkata, “Dan kau wahai Abu Dzar, bagaiman kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?”

Abu Dzar menjawab,”aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa ‘tidak ada lagi laki-laki jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat Muhammad saw.”

Mendengar itu semua, dua orang laki-laki anak kakek yang terbunuh itu berkata, “Sekarang tiba giliran kami, wahai amirul mukminin, kami bersaksi di hadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apapun darinya! Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf di kala mampu. Ini kami lakukan agar orang-orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang berjiwa besar, yang mau memafkan saudaranya di kalangan umat Muhammad saw.

Sumber “Ketika cinta berbuah surga” karya Habiburahman El Shirazy


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: