Posted by: Yudi Yudistira | 7 December 2010

Engkau Letakkan Allah dimana?


Engkau letakkan Allah dimana

Engkau letakkan Allah dimana

Saudaraku yang budiman..

catatan saya ini adalah tentang sesuatu yang mendasar, namun inilah yang menentukan baiknya keimanan dan perbuatan..

pertannyaannya singkat, Engkau letakkan Allah dimana?

Dihatimu?

Dimatamu?

Ditelingamu?

Ditanganmu?

atau dimana saja?

Diatas segalanya kah?

atau malah sebaliknya?

mari kita intropeksi..

saya banyak melihat fenomen / kenyataan yang ada, bahwa sulit sekali mendapatkan orang yang mengatakan Allah berada di atas segalanya dengan perbuatannya. ketika ditanya tentang hal itu, kebanyakan dari mereka menjawab, Allah mereka tempatkan di atas segalanya, lalu apa buktinya?. terkadang faktanya tidak menjawab demikian.

sebagai salah satu contoh. Suatu hari, seorang atasan dari sebuah perusahaan hendak berkunjung ke salah satu cabangnya. maka sejak saat itu, orang-orang dan seluruh rekan kerja berlomba-lomba untuk membersihkan segala ruangan, memberinya minyak wangi dengan tujuan ketika atasan kami lihat-lihat, ia merasa senang. yang lebih aneh lagi adalah mereka berusaha berpakaian serapi mungkin, berdasi, berjas dan sebagainya. namun ketika atasan itu pulang, ruangan kembali berantakan, bahkan yang agak geli, mereka menghadap Allah (shalat) hanya cukup mengenakan pakaian seadannya, kadang kaos yang dipakai selama berhari-hari tanpa memakai minyak wangi.

masyaAllah, berarti mereka tidak menempatkan Allah diatas segalanya….

padahal sungguh, negeri ini akan aman ketika semua orang merasa Allah ada di hatinya, sehingga perbuatannya bukan lagi berdasarkan kebaikan atau keburukan menurut dirinya, namun sudah kebaikan atau keburukan menurut Allah.

sehingga kemana-mana dia selalu merasa diawasi Allah… saya yakin tidak akan ada lagi penyelewengan.

contoh lain adalah :

seorang pemuda ketika di kampungnya bersama orang tua, ia tidak berani keluar bersam seorang laki-laki, tidak berani kalau membuka aurat dan sebagainya. namun ketika berhijrah ke tempat lain, dimana tidak ada orang tua atau tinggal di kosan, ia berani keluar bersama laki-laki, membuka aurat atau pelanggraran-pelanggaran lain. padahal ia sedang diawasi oleh Allah.

Astagfirullah…

penulis mengajak, khususnya diri sendiri, umumnya untuk orang lain, agar kita sama-sama belajar menempatkan Allah diatas segalanya.

semoga kita dijadikan sebagai hamba yang Muhsin (merasa diawasi Allah)

Amin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: